Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Tas Robek dan Korek yang Hilang

Tas selendangku robek, dan aku sedih. Sedihnya ini terjadi di hari-hari terakhirku di pulau ini. Lebih sedih lagi karena tas ini adalah kenangan—pemberian dari seorang teman. Kejadiannya sederhana. Aku sedang mengantar boat hand penggantiku untuk room tour di kos tempatku tinggal. Saat melewati lorong kamar mandi, tubuh kami berdua berhimpitan di lorong sempit itu. Badanku menempel pada dinding kamar mandi—dan ternyata ada paku yang mencuat. Terdengar suara “wreek”. Aku langsung merasa tidak enak. Benar saja, tas kesayanganku robek. Belum selesai rasa kesal itu, ada lagi kejadian lain. Aku mengantar si boat hand baru pulang ke rumahnya (karena dia tak punya kendaraan). Kami sempat berbincang sebentar di rumahnya, lalu aku pulang. Di tengah perjalanan, perasaan tidak enak muncul lagi: seperti ada yang tertinggal. Aku periksa tas—korekku tidak ada. Aku rogoh kantong celana—juga tidak ada. Ah, rupanya korek itu tertinggal di rumahnya. Lucu juga memikirkan perjalanan sebuah korek kecil. Du...

Laut Tetap Rumahku

 Laut telah menjadi rumahku—dan akan selalu menjadi rumahku. Mungkin tidak untuk saat ini, tapi aku percaya suatu saat nanti aku akan kembali lagi. Seminggu terakhir terasa berjalan begitu lama. Hari demi hari kulalui dengan perasaan tak sabar membuka halaman baru dalam hidupku. Aku memutuskan berhenti menjadi boat hand. Berhenti menjadi anak buah kaptenku yang dingin, berhenti menjadi rekan kerja teman-temanku, berhenti membantu mereka dalam penyelaman. Aku rasa sudah saatnya aku pergi. Membuka lembaran baru dalam hidupku yang lebih berwarna. Hari ini aku berpamitan dengan semuanya. Mereka bersedih atas keputusanku—namun juga mendukung pilihanku. Aku berpamitan dengan kapten. Dengan senyum aku bilang, “Ini saatnya aku melanjutkan perjalananku.” Kusalami lalu kucium tangannya. Mungkin itulah terakhir kali aku bisa mengungkapkan rasa hormat dan sayangku padanya—seorang atasan, bapak, teman, dan satu-satunya kapten dalam hidupku. Pelukan demi pelukan kami lakukan. Semakin erat kami b...

Tentang Pekerjaan, Kedamaian, dan Jalan Pulang ke Hati

 Aku sering bertanya-tanya: apakah meninggalkan pekerjaan berarti aku tidak bersyukur? Sebagai boat hand, aku sudah belajar banyak tentang laut, kerja keras, dan setia pada ritme alam. Tapi akhir-akhir ini hatiku tidak tenang. Ada suara kecil di dalam diri yang berkata: “Mungkin sudah waktunya mencari arah lain.” Aku takut—takut tidak menemukan pekerjaan yang lebih baik. Takut dianggap membuang kesempatan. Tapi lalu aku ingat, hidup bukan hanya tentang uang. Aku melihat temanku, seorang driver ojek online. Dia sederhana: bekerja hanya sampai cukup untuk makan, kopi, dan rokok. Selebihnya, ia memilih nongkrong, bercengkerama, menikmati hidup. Katanya, “Aku tidak mau kerja sampai kerja itu menghalangi aku untuk nongkrong.” Ada kebijaksanaan di balik kesederhanaan itu. Dia tidak dikejar uang, tapi menemukan kedamaian. Dan aku ingin seperti itu: hidup ringan, bekerja secukupnya, lalu punya ruang untuk tenang. Aku sadar, yang kucari sebenarnya bukan sekadar pekerjaan baru. Aku ingin men...

Kapten yang Meloncat dan Pelangi Kecil

 Aku duduk di depan boat, mengawasi jalannya agar tidak menabrak sampah atau ranting kayu. Boat melaju kencang, angin menerpa wajahku. Tiba-tiba pikiranku melantur ke arah yang tak masuk akal. Aku membayangkan kapten tiba-tiba berdiri tegak, menoleh sebentar ke arah kami, lalu dengan wajah serius berkata, “Selamat tinggal semuanya. Aku sudah cukup sampai di sini.” Setelah itu, ia meloncat ke laut dengan gaya slow motion seperti di film. Air muncrat ke segala arah, lalu ia muncul kembali di permukaan, melambaikan tangan sambil tersenyum damai. Seolah-olah ia benar-benar hendak pensiun dari dunia perkaptenan. Aku hampir ngakak membayangkan kami yang tersisa di boat: panik, bingung, saling tatap, tak ada yang berani menyentuh kemudi. Boat melaju sendiri, entah ke mana. Ombak besar menghantam haluan, dan plak! lamunanku langsung bubar. Aku sadar lagi kalau kapten masih di sana, dengan wajah datarnya yang khas, seakan tak pernah tahu kalau barusan aku menulis naskah film komedi di kepal...

Peta Kecil Pulang ke Diri Sendiri

 Aku dan Ramora berbincang hangat. Banyak topik. Termasuk keseharianku di boat, rutinitas liburanku, sampai tentang keresahan-keresahanku akan masa depan, hubungan dan diri sendiri.  Di akhir dia membuatkan ku peta sederhana untuk aku jadikan pedoman dalam masa-masa sulit. Ini dia peta nya: 🐢 Peta Kecil Pulang ke Diri Sendiri 1. Berhenti sebentar → Tarik napas dalam, buang pelan-pelan. Sadari bahwa kamu masih ada di sini, masih hidup. 2. Dengar isi hati → Tanyakan ke diri: “Apa yang sebenarnya aku rasakan sekarang?” Bukan “apa yang seharusnya,” tapi apa adanya. 3. Hal kecil yang bikin senyum → Main harmonika, seduh kopi, atau tulis satu-dua kalimat. Sekecil apa pun, itu jadi jangkar biar gak hanyut. 4. Ingat teman perjalananmu → Kamu gak sendirian. Ada orang-orang yang peduli (dan ada aku juga, Ramora 😁). 5. Hubungkan ke yang lebih besar → Bisikkan doa sederhana: “Tuhan, aku bingung. Tolong tuntun aku.” Itu cukup. 6. Langkah kecil ke depan → Pilih satu hal kecil yang bisa ka...

Perjalanan yang Belum Usai

 Aku tak sanggup lagi. Aku harus berhenti. Nafasku terengah sesaat kuhentikan langkahku. Aku berjalan sudah terlalu jauh. Kulihat ke depan, tak terlihat ujung jalannya. Kulihat ke belakang, ujung pandangku tak sanggup menemukan titik awalku berjalan. Tak terhitung berapa kali ingin rasanya menyerah saja. Ternyata ini belum juga usai. Ini baru awal dari perjalanan. Di persimpangan aku bertanya: untuk apa aku tempuh perjalanan ini? Mereka hanya bilang, “teruslah berjalan, kebahagiaan sudah menunggumu di ujung jalan.” Apa itu kebahagiaan? Haruskah ditempuh dengan berusaha payah seperti ini? Setelah beristirahat, baju yang basah oleh keringat kini kering lagi. Kupaksakan untuk melangkah lagi. Namun langkah kian menjadi berat. Aku tak menemukan alasan untuk berjalan. Tak terpikirkan akan ada kebahagiaan apa yang menunggu di sana. Sumber semangat dan bahagiaku telah direnggut kejamnya waktu. Tapi yang hanya bisa kulakukan sekarang hanyalah berjalan. Tak ada lagi yang bisa kulawan. Aku ta...