Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Adi dan Pemahamannya Akan Perasaan Manusia

Dia lah Adi yang meyakinkanku untuk terus melangkah dalam lelahku dan ketakutanku. Ia memvalidasi tangisku. Tangisku yang sesenggukan seperti bayi diterima olehnya.  Ditengah deru tangisku ia sesekali seperti menjawab setiap keluhanku, setiap pertanyaanku. Tanpa mengerti betul apa yang ada di benakku tapi ia mengkonfirmasi perasaanku, menerima setiap segukan tangisku. Ia menjawabnya disetiap jeda tangisku.  "Enggeus... Enggeus.... Heeuh.... Heeuh.... Nyaho aing ge.... Ngarti aing ge..... Heeuh... Enggeus...." Tangisku makin menjadi. Aku merasa ada yang membelaku. Aku semakin menjadi emosionil. Aku merasa bahwa kesedihanku adalah hal yang benar. Seperti anak kecil yang dibela tangisku makin meledak. Aku pun habiskan air mataku.  Ia mengerti bahwa apa yang kulakukan adalah kebenaran dan ia menjadi saksinya.  Saat aku berhenti karna kehabisan tenagaku, ia ada disana. Ia meyakinkanku bahwa penderitaanku adalah penderitaannya begitu pula sebaliknya. Apa yang terjadi padak...

Andai Tak Ada Hari Esok

Dunia berjalan begitu cepat Aku melangkah begitu lambat Seperti asap rokok yang menguap Kemana semua kan berakhir Bukan aku tak mau, aku pun sama Aku pernah berlari sampai terjatuh  Tersungkur tergeletak tak berdaya "Tak perlu berlari, ikuti saja iramanya!" Aku tak peduli lagi dengan sajak Indah tersusun dengan rima rima Aku tulis dengan bosan dan bertanya Bagaimana akhir dari cerita Andai tak ada lagi hari esok Maka maafkan semua khilafku Ambil saja barangku sesukamu Gunakan atau bakar atau buang Andai tak ada lagi hari esok Akan kusimpan semua cerita Senyum tulus, tangis jujur tanpa diminta Kan ku jadikan bekal mimpi panjangku

"Lawan pikiranmu!" kata Sabi

"Penyakitmu sebenarnya bukan lah penyakit namun ia adalah kelebihan yang Tuhan berikan padamu" Begitu lah kata-kata yang Sabi utarakan kepada ku. Dari awal memang ia selalu mendukungku.  Bila mumet dengan pikiran yang liar, ia menyarankan ku untuk menuangkannya dalam lagu, puisi dan lukisan. Ia bilang banyak orang dengan kondisi sama sepertiku menjadi orang yang hebat. Ia memberi contoh vincent van gogh yang juga seorang penyintas penyakit mental. Namanya mashur karena Lukisannya yang penuh dengan sentuhan khas, buah dari pikirannya yang berbeda dari pelukis lain.  Namun setelah ku telusuri lebih jauh lagi ternyata ia mati bunuh diri. Aku jadi takut. Karena beberapa kali aku sempat terbesit untuk melakukannya juga. Namun Sabi menegurku yang hanyut oleh ketakutanku. Ia bilang aku harus bisa melawan pikiranku. Ia bilang pikiran bila dibiarkan bisa berbahaya. Kita harus bisa mengontrol pikiran kita.  Aku rasa pun begitu. Bila memikirkan tentang sesuatu, hal yang tidak rasion...

Aku dah Sabi

 Sore ini aku berada di antara gunung dan laut. Diantara debur ombak yang datang silih berganti. Diantara keyakinan yang perlahan datang dan menguat.  Aku tak sendiri. Aku ditemani seorang petarung yang berhati lembut. Namanya Sabi. Ia datang menjemputku.  "Sudah saatnya kau pergi dari sini" Bisiknya setelah ia memeluku erat. Aku sudah tau maksud kedatangannya. Ia datang untuk menjemputku. Seperti sudah tertulis di dalam skenario cerita ku dan dunia, bahwa kita akan pulang menuju ke rumah. Tempatku berasal.  Hari ini tepat seminggu setelah kedatangannya. Hari-hari kami lalui bersama. Tampak di sudut senyumnya kulihat ada lelah disana. Lelah yang sama seperti lelah ku. Lelah akan perjalanan yang jauh dan lelah akan cinta dan dunia. Tapi ia terus menyemangati ku. Ia yakin kan ku bahwa tak perlu menunggu kuat untuk berjalan.  Masih kuingat dulu, bagaimana aku sempat takut pada semua hal. Aku sedikit gentar melihat tatapan matanya dan besar tinjunya. Suatu malam dia...