Tas Robek dan Korek yang Hilang

Tas selendangku robek, dan aku sedih. Sedihnya ini terjadi di hari-hari terakhirku di pulau ini. Lebih sedih lagi karena tas ini adalah kenangan—pemberian dari seorang teman.


Kejadiannya sederhana. Aku sedang mengantar boat hand penggantiku untuk room tour di kos tempatku tinggal. Saat melewati lorong kamar mandi, tubuh kami berdua berhimpitan di lorong sempit itu. Badanku menempel pada dinding kamar mandi—dan ternyata ada paku yang mencuat. Terdengar suara “wreek”. Aku langsung merasa tidak enak. Benar saja, tas kesayanganku robek.


Belum selesai rasa kesal itu, ada lagi kejadian lain. Aku mengantar si boat hand baru pulang ke rumahnya (karena dia tak punya kendaraan). Kami sempat berbincang sebentar di rumahnya, lalu aku pulang. Di tengah perjalanan, perasaan tidak enak muncul lagi: seperti ada yang tertinggal. Aku periksa tas—korekku tidak ada. Aku rogoh kantong celana—juga tidak ada. Ah, rupanya korek itu tertinggal di rumahnya.


Lucu juga memikirkan perjalanan sebuah korek kecil. Dulu aku mendapatkannya dari rumah seorang teman asal Sumatra di Jimbaran. Lalu ia berpindah tangan kepada ku yang berasal dari jawa barat di Ceningan. Dan kini, entah bagaimana, ia tinggal bersama seseorang dari Labuan Bajo.


Kalau bisa bicara, mungkin si korek akan berkata:

“Perjalananku lebih jauh dari tangan yang menyalakan api. Dari satu teman ke teman lain, dari satu pulau ke pulau lain. Aku hanyalah korek, tapi aku punya nasibku sendiri.”


Begitulah kesialanku hari ini. Tas yang robek, korek yang hilang. Ternyata benda-benda kecil pun bisa meninggalkan jejak cerita. Semoga besok tak ada yang hilang lagi—kecuali rasa sedih yang hari ini singgah sebentar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapten yang Diam, Penyu yang Lewat

Nebus Resep Obat

Tentang Laut dan Nafas Pertama