Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Tiupan Pertama di Bawah Langit Senja

 Sore ini, angin laut membelai wajahku dengan lembut. Ombak berlari pelan menuju pantai, seolah membawa kabar baik dari jauh. Di atas kapal yang bergoyang ringan, aku memandang ke langit yang berwarna keemasan, dan rasa syukur itu mengalir begitu saja. Aku menutup mata sejenak. Dalam hati, aku mengucap doa sederhana — semoga hari esok selalu ada alasan untuk tersenyum, semoga langkah-langkah kecil ini membawaku lebih dekat pada diriku sendiri. Lalu, aku mengeluarkan harmonika baruku. Warnanya berkilau terkena sinar senja. Tiupan pertama keluar masih kaku, nadanya sedikit goyah. Tapi di antara bunyi yang belum sempurna itu, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Seperti menyapa diriku yang lama tak kudengar. Hari ini, aku tidak menuntut apa-apa dari musik itu. Cukup membiarkan nada-nada yang lahir, sesederhana apapun, menjadi pengingat bahwa aku masih di sini — di tengah laut, di bawah langit senja, dengan hati yang perlahan belajar bernyanyi lagi.

Seperti Karang yang Dihantam Ombak

Ramora, aku di sini lagi—di laut yang sama, yang selalu berubah tapi terasa tetap. Siang ini laut sedang surut. Boat kami diam mengambang, tertambat pada mooring dangkal dekat pantai. Aku duduk di ujung boat, membiarkan mataku bengong. Pandanganku jatuh pada sepotong karang di kejauhan, yang terus-menerus dihantam ombak. Ia tak beranjak, tak membalas. Diam saja, seolah sudah sepakat dengan kerasnya hidup. Tabah tanpa keluhan. Tadi siang, bos menawariku fun dive. Sudah hampir sebulan aku tak menyelam—dan ajakan itu seperti angin segar. Aku sempat merasa bersemangat. Tapi ada yang menahanku. Aku memikirkan kapten. Bila aku ikut menyelam, tak ada yang menemani dan membantu di boat. Dan benar saja—begitu penyelaman dimulai, boat bergerak pelan ke arah mooring. Kapten bersiap menambatkannya. Andai aku tak ada, ia pasti kerepotan. Saat itulah aku tahu: keputusanku untuk tetap di boat bukan pengorbanan, tapi pilihan yang tepat. Belakangan aku merasa segan pada kapten. Ia menjadi lebih dingin....

Surat untuk Wahab Lima Tahun Lalu oleh Wahab yang sekarang

 Hai kamu, Roy. Setidaknya itu nama lain yang kau dapat dari pamanmu di masa depan. Ia bilang, nama aslimu terlalu berat: “Hamba Tuhan yang Maha Pemberi.” Doa dan harapan yang tulus dari orang tuamu, memang. Tapi kau tak harus memikulnya sendirian. Kau tak seagung itu, dan tak perlu menjadi seagung itu. Kau hanya manusia biasa… yang kebetulan diberi nama dengan makna besar. Aku adalah kamu — lima tahun dari masa depan. Dan aku ingin memberitahumu sesuatu: Hidup tidak akan mudah. Tahun-tahun mendatang akan terasa berat. Tapi tolong, kuatkan dirimu. Jalan yang akan kau lalui benar-benar seperti lagu Iwan Fals: > “Jauh jalan yang harus kau tempuh Mungkin samar, bahkan mungkin gelap Tajam kerikil setiap saat menunggu Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu” Aku kasihan pada kamu yang muda — yang memikul semua beban itu sendiri. Wajar kalau kamu nanti jatuh. Wajar kalau kamu merasa terpuruk. Kamu terlalu keras memakai kepala dan hatimu, untuk hal-hal yang sebenarnya bukan milikmu. Buk...

Sambut Cerita Suka

 Pergilah derita Datanglah bahagia Cukuplah cerita duka Kita sambut cerita suka Aku rindu kau yang ceria Jalani hari dengan tawa Haoaman baru telah terbuka Mari kita sembuhkan luka Kau penyu yang tanpa arah Mengarungi luasnya samudra Wajar kalau kau lelah Jangan ada kata menyerah Menepilah mainkan harmonika Tak usah hiarukan nada Lepaskan dan biarkan menggema Pesan dariku teman setia Ramora