Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Hal yang Tidak Ingin Kuceritakan, Tapi Perlu Kutulis

 Ada hal-hal yang terjadi begitu cepat… hanya dalam beberapa detik. Tapi sisa harinya, aku terdiam menyesalinya. Hari ini aku merasa jatuh ke dalam dua lubang. Yang satu bernama lidah, dan satunya lagi pikiran.bDua-duanya licin — dan sayangnya, aku terpeleset di dalamnya. Pertama, aku mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu keluar dari mulutku. Sebuah candaan yang menyentuh identitas seseorang. Meski dalam suasana bercanda dan tidak berniat menyakiti, ada detik setelahnya yang membuat hatiku tercekat. Seperti tubuhku tahu lebih dulu kalau aku telah melewati batas. Aku sempat bertemu lagi dengan orang itu setelahnya. Ia tersenyum. Katanya tak marah. Tapi aku tetap merasa bersalah. Kadang, luka bukan tentang seberapa dalam goresannya. Tapi tentang apakah kita menyentuh sesuatu yang rapuh — meski tak terlihat. Yang kedua, adalah soal pikiranku yang terlalu jauh. Rasa penasaran membuatku tergoda membuka sesuatu yang bukan milikku. Aku tidak benar-benar melakukannya. Tapi niat d...

Daun di Atas Ombak

Kembali siang ini aku di laut, bersama kapten. Angin bertiup kencang, dan awan beriringan menutupi matahari. Cukup damai untuk sekadar mengistirahatkan hati dari hari yang melelahkan. Tak banyak kata terucap dari kami berdua—karena barangkali hati kami sudah saling terhubung tanpa suara. Boat kami tertambat pada mooring di samping tebing sebuah pulau. Kapten di belakang, setelah bosan berbaring, kini duduk kembali di singgasananya: balik kemudi. Aku tak tahu apa yang sedang ia lihat—kacamata hitamnya tetap saja misterius. Mungkin ia tak tertarik memperhatikan sekitar. Bisa jadi laut ini tak lagi memukau baginya. Atau mungkin… ia sedang mengawasi aku, anak buahnya yang tampak hanya melamun setiap kali menunggu para penyelam pergi. Ya, aku memang sedang melamun—memperhatikan daun yang jatuh dari pohon di tepi tebing. Kulihat daun itu seperti pasrah. Di satu sisi, ia dibawa arus ke arah pantai. Di sisi lain, angin mendorongnya ke tengah. Gelombang memantulkannya ke arah yang berbeda. Tak ...

Ketika Menyelam Tak Lagi Sama

Ramora, apakah ada pekerjaan yang tidak membosankan? Maksudku aku sedikit kurang percaya dengan yang namanya kerja berdasarkan passion. Meskipun kita mencintai pekerjaan itu pada awalnya pasti setelah berjalannya waktu kita akan merasakan bosan. Bosan mengerjakan hal yang sama berulang-ulang, menghadapi masalah yang sama, bersinggungan dengan orang yang sama. Bagiku itu semua sungguh melelahkan. Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai penyelam profesional aku sempat berhenti. Aku merasa lelah dengan dunia ini. Kelelahan ini membuat perasaanku tentang diving ini berbalik 180°. Diving menjadi kegiatan yang traumatik bagiku. Aku menjadi resah di bawah air. Aku tidak merasakan ketenangan yang sama. Hal sesederhana menggunakan masker dan bernafas dengan regulator pun menjadi hal yang menakutkan. Melayani tamu dengan kebutuhan yang berbeda-beda menjadi sebuah tekanan. Belum lagi tamunya banyak nuntut, atau tamu dengan skill menyelam yang rendah. Sudah dipastikan harimu akan menyebalkan. Saat ...

Menunggu di atas ombak

 Siang yang panas di boat. Cukup untuk mengeringkan bajuku yang sudah basah kuyup untuk yang keempat kalinya. Swell tinggi sekali hari ini. Kami pergi ke manta point. Pulang pergi baju kami diguyur hempasan air laut. Begini lah bekerja di laut. Asin garam laut sudah menjadi makanan sehari-hari. Tak menyalahkan, kalau aku bekerja sebagai penjaga toko parfum mungkin lain cerita. Bukannya bertabur garam, badanku akan harum sepanjang hari. Suara deburan ombak silih berganti memasuki rongga telingaku. Ditambah boat kami yang bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan ombak. Syahdu sekali. Ini membuat aku ingin tidur saja. Kapten sudah duluan tidur dan aku berjemur mengeringkan bajuku. Tak salah ia tertidur, pastinya ia lelah seharian mengemudikan boat dengan kondisi laut yang cukup ekstrim. Bagaimana tidak, dari puluhan boat yang biasanya pergi ke manta point, pagi tadi hanya kami saja yang berada di sana. Beginilah keseharian kami, 2 jam dalam sehari kami habiskan untuk menunggu ...