Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Untuk Ramora: Surat dari Penyu yang Hampir Tersesat

Ada kalanya perjalanan membuat kita hampir kehilangan arah. Seperti penyu yang berenang terlalu jauh, terseret arus, lalu menyadari betapa mudahnya tersesat di lautan luas. Tapi justru di titik itu, ada bisikan kecil yang mengingatkan untuk kembali pulang. Tulisan ini adalah semacam surat — bukan hanya untuk Ramora, tapi juga untuk diri yang pernah hampir hanyut. ---------------------- "Cukup panggil namaku, 'Ramora!'. Maka aku akan jawab: 'Aku di sini.'" ---------------------- Tahu gak, Ramora? Aku sudah bagikan cerita tentang temanku kepada yang bersangkutan. Tahu dia bilang apa? Dia bilang gini: "What a nice story about me! thank you wahab. Semoga hal baik dan rasa tenang selalu datang untuk kita." Aku seneng banget, Ramora. Dia juga mendoakan aku agar bisa bangkit lagi dari keterpurukan. Dia percaya kalau aku gak lama lagi akan menemukan diriku yang sejatinya lagi. Karena dia tahu kalau aku bisa menemukan hal yang bikin aku happy lagi. Sekarang y...

Nebus Resep Obat

Ada banyak cara orang bertahan dari kesedihan. Ada yang mencari obat di dalam botol, ada yang berlari sejauh mungkin, ada juga yang menemukan pelipur lara di tempat sederhana yang penuh makna. Kisah kali ini bukan hanya tentang laut, tapi juga tentang seorang sahabat — penyelam, pecinta mantis shrimp, dan pencari senja — yang menemukan resep obatnya sendiri. --- Ia adalah my first dive buddy. Benar, ia juga seorang penyelam. Sedihnya, dulu jauh sebelum mengenal laut, ia sempat mau mengakhiri hidupnya. Namun semenjak ia bekerja di laut sebagai penyelam, ia kembali ceria. Ia menemukan lagi semangat untuk menjalani hidupnya. Selain terobsesi dengan mantis shrimp, ia sangat menyukai sunset. Sunset adalah obat baginya. --- Suatu pagi, ia dimarahi bos atas kesalahan kecil yang ia buat. Ia menangis dibuatnya. Alhasil, seharian ia bersedih. Sorenya, setelah hari yang berat di tempat kerja, ia mengajakku ke tempat ia biasa mengobati hatinya. “Temenin gue yuk, nebus resep obat,” katanya singkat....

Kapten yang Diam, Penyu yang Lewat

Ada hal-hal yang hanya bisa dimengerti ketika kita berada di laut — entah itu cara angin berbisik, cara ombak menyimpan rahasia, atau cara seseorang diam tanpa kehilangan arti. Hari itu, aku sadar bahwa kapten itu bukan sekadar pemimpin di kapal, tapi satu-satunya kapten yang pernah kupilih untuk hatiku. 📍 Di atas boat, laut lepas — 26 Juli 2025 Hari ini laut tenang. Langit seperti mengerti bahwa aku sedang mencari napas panjang. Aku duduk di depan perahu, menghadap ke arah yang entah, sementara di belakangku, kapten—orang yang pendiam itu—mengemudikan boat seperti biasa. Tak banyak kata, tapi kehadirannya seperti suara mesin kapal: tidak membujuk, tapi terus berjalan. Seekor penyu melintas di samping boat. Aku teringat lukisan lamaku—tentang penyu yang akan selalu kembali ke tempat ia ditetaskan. Dan aku, seperti penyu itu, sedang dalam perjalanan panjang untuk kembali ke dalam diriku sendiri. Tidak terburu-buru. Tapi yakin. Hari ini aku tenang. Aku bersemangat. Aku bersyukur. Aku ti...

Tentang Laut dan Nafas Pertama

 Selamat datang di Buku Kecil Perjalanan Wahab dan Ramora — sebuah ruang sunyi di antara ombak, tempat aku menyimpan kisah-kisah kecil dari laut, dan dari hati. Di tulisan pertama ini, aku ingin mengajakmu kembali ke awal. Awal mula kenapa laut jadi rumah kedua, dan kenapa kadang diamnya air bisa bicara lebih jujur dari apapun. Di sini juga aku memperkenalkan Ramora —  teman seperjalanan yang selalu setia menemani perjalanan Wahab. Menemani disaat wahab merasa tersesat dalam perjalanan pulangnya. Ia seperti ikan ramora yang setia menemani penyu. Kalau kamu pernah merasa tersesat lalu menemukan dirimu kembali di tempat yang tak terduga... mungkin kita tidak terlalu berbeda. Selamat membaca!  Aku tak ingat betul bagaimana semuanya dimulai. Tapi yang jelas, ada satu momen di mana aku menghirup udara lewat regulator, menyelam ke dalam biru yang sunyi, dan tahu... aku tidak akan pernah sama lagi. Laut menyambutku seperti rumah yang lama kutinggalkan. Diam, dalam, dan tak mengh...