Perjalanan yang Belum Usai
Aku tak sanggup lagi. Aku harus berhenti. Nafasku terengah sesaat kuhentikan langkahku.
Aku berjalan sudah terlalu jauh.
Kulihat ke depan, tak terlihat ujung jalannya.
Kulihat ke belakang, ujung pandangku tak sanggup menemukan titik awalku berjalan.
Tak terhitung berapa kali ingin rasanya menyerah saja.
Ternyata ini belum juga usai.
Ini baru awal dari perjalanan.
Di persimpangan aku bertanya:
untuk apa aku tempuh perjalanan ini?
Mereka hanya bilang, “teruslah berjalan, kebahagiaan sudah menunggumu di ujung jalan.”
Apa itu kebahagiaan?
Haruskah ditempuh dengan berusaha payah seperti ini?
Setelah beristirahat, baju yang basah oleh keringat kini kering lagi.
Kupaksakan untuk melangkah lagi. Namun langkah kian menjadi berat.
Aku tak menemukan alasan untuk berjalan.
Tak terpikirkan akan ada kebahagiaan apa yang menunggu di sana.
Sumber semangat dan bahagiaku telah direnggut kejamnya waktu.
Tapi yang hanya bisa kulakukan sekarang hanyalah berjalan.
Tak ada lagi yang bisa kulawan.
Aku tak punya hak atas diriku, sementara tangan dan kaki ini bukanlah milikku.
Dengan menundukkan kepala,
kubatasi pandanganku pada kaki yang melangkah sedikit demi sedikit.
Aku pun berjalan dan terus berjalan tanpa menatap ke depan.
Hanya langkah-langkah tanpa arah,
dalam perjalanan yang tak pernah ingin kuselesaikan.
Tak ada ujung. Tak ada jawaban.
Hanya aku yang berjalan,
dan berjalan,
hingga semuanya lenyap.
Komentar
Posting Komentar