Tentang Pekerjaan, Kedamaian, dan Jalan Pulang ke Hati
Aku sering bertanya-tanya: apakah meninggalkan pekerjaan berarti aku tidak bersyukur?
Sebagai boat hand, aku sudah belajar banyak tentang laut, kerja keras, dan setia pada ritme alam. Tapi akhir-akhir ini hatiku tidak tenang. Ada suara kecil di dalam diri yang berkata: “Mungkin sudah waktunya mencari arah lain.”
Aku takut—takut tidak menemukan pekerjaan yang lebih baik. Takut dianggap membuang kesempatan. Tapi lalu aku ingat, hidup bukan hanya tentang uang. Aku melihat temanku, seorang driver ojek online. Dia sederhana: bekerja hanya sampai cukup untuk makan, kopi, dan rokok. Selebihnya, ia memilih nongkrong, bercengkerama, menikmati hidup. Katanya, “Aku tidak mau kerja sampai kerja itu menghalangi aku untuk nongkrong.”
Ada kebijaksanaan di balik kesederhanaan itu. Dia tidak dikejar uang, tapi menemukan kedamaian.
Dan aku ingin seperti itu: hidup ringan, bekerja secukupnya, lalu punya ruang untuk tenang.
Aku sadar, yang kucari sebenarnya bukan sekadar pekerjaan baru. Aku ingin menulis dan tetap dekat dengan komunitas. Dua hal itu membuatku merasa hidup, membuatku merasa dekat dengan makna. Menulis menjadi wadah untuk hati, komunitas menjadi sumber energi dan cerita.
Mungkin jalanku ada di sana: menulis kisah-kisah kecil, merawat persaudaraan, dan tetap menjaga kedekatan dengan bumi. Bukan soal mengejar, tapi soal merawat cukup.
Bukan soal menjadi besar, tapi soal menemukan damai.
Komentar
Posting Komentar