Laut Tetap Rumahku

 Laut telah menjadi rumahku—dan akan selalu menjadi rumahku. Mungkin tidak untuk saat ini, tapi aku percaya suatu saat nanti aku akan kembali lagi.


Seminggu terakhir terasa berjalan begitu lama. Hari demi hari kulalui dengan perasaan tak sabar membuka halaman baru dalam hidupku. Aku memutuskan berhenti menjadi boat hand. Berhenti menjadi anak buah kaptenku yang dingin, berhenti menjadi rekan kerja teman-temanku, berhenti membantu mereka dalam penyelaman.


Aku rasa sudah saatnya aku pergi. Membuka lembaran baru dalam hidupku yang lebih berwarna. Hari ini aku berpamitan dengan semuanya. Mereka bersedih atas keputusanku—namun juga mendukung pilihanku.


Aku berpamitan dengan kapten. Dengan senyum aku bilang, “Ini saatnya aku melanjutkan perjalananku.” Kusalami lalu kucium tangannya. Mungkin itulah terakhir kali aku bisa mengungkapkan rasa hormat dan sayangku padanya—seorang atasan, bapak, teman, dan satu-satunya kapten dalam hidupku.


Pelukan demi pelukan kami lakukan. Semakin erat kami berpelukan, semakin sesak dada ini terasa. Aku menyesali waktu seminggu yang awalnya kurasa terlalu lama. Ternyata ia begitu berharga. Kini waktu kami tinggal sedikit lagi.


Beberapa saat kemudian aku duduk sambil merokok, menulis catatan ini. Kulihat seorang teman santai bermain ponsel, menggulir Instagram dengan kaki selonjoran ke tembok. Hidup berjalan seperti biasa. Tak ada yang istimewa. Semuanya berlalu begitu saja.


Aku pun menjadi lebih tenang. Aku berpikir, perpisahan memang menyedihkan, tapi ia akan berlalu seiring hidup yang terus berjalan. Hari-hari akan berganti, minggu-minggu akan lewat, dan aku akan sampai pada titik bosan yang lain lagi.


Aku tak berharap banyak. Semoga kalian semua sehat-sehat. Tetap menyelam dengan aman. Semoga tak ada tamu yang merepotkan—kalaupun ada, nikmati saja. Begitulah hidup: menikmatinya.


Terakhir, aku yakin kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Entah di dunia ini (semoga), di mimpi, di khayal, atau di akhirat kelak. Selamat tinggal, Nusa Ceningan. Selamat tinggal, Ceningan Diver.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapten yang Diam, Penyu yang Lewat

Nebus Resep Obat

Tentang Laut dan Nafas Pertama