Kapten yang Meloncat dan Pelangi Kecil

 Aku duduk di depan boat, mengawasi jalannya agar tidak menabrak sampah atau ranting kayu. Boat melaju kencang, angin menerpa wajahku.


Tiba-tiba pikiranku melantur ke arah yang tak masuk akal.

Aku membayangkan kapten tiba-tiba berdiri tegak, menoleh sebentar ke arah kami, lalu dengan wajah serius berkata,

“Selamat tinggal semuanya. Aku sudah cukup sampai di sini.”


Setelah itu, ia meloncat ke laut dengan gaya slow motion seperti di film. Air muncrat ke segala arah, lalu ia muncul kembali di permukaan, melambaikan tangan sambil tersenyum damai. Seolah-olah ia benar-benar hendak pensiun dari dunia perkaptenan.


Aku hampir ngakak membayangkan kami yang tersisa di boat: panik, bingung, saling tatap, tak ada yang berani menyentuh kemudi. Boat melaju sendiri, entah ke mana.


Ombak besar menghantam haluan, dan plak! lamunanku langsung bubar. Aku sadar lagi kalau kapten masih di sana, dengan wajah datarnya yang khas, seakan tak pernah tahu kalau barusan aku menulis naskah film komedi di kepalaku.


Lalu mataku menangkap cipratan air di depan boat. Sinar matahari mengenainya, membentuk pelangi kecil yang setia mengikuti di sisi boat. Indah sekali.


Aku tersenyum.

Ternyata, di sela-sela lelahnya hari, selalu ada hal yang bisa membuatku bahagia. Entah itu imajinasi konyol tentang kapten yang meloncat, atau pelangi kecil yang setia menemani perjalanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapten yang Diam, Penyu yang Lewat

Nebus Resep Obat

Tentang Laut dan Nafas Pertama