"Lawan pikiranmu!" kata Sabi

"Penyakitmu sebenarnya bukan lah penyakit namun ia adalah kelebihan yang Tuhan berikan padamu"

Begitu lah kata-kata yang Sabi utarakan kepada ku. Dari awal memang ia selalu mendukungku. 


Bila mumet dengan pikiran yang liar, ia menyarankan ku untuk menuangkannya dalam lagu, puisi dan lukisan. Ia bilang banyak orang dengan kondisi sama sepertiku menjadi orang yang hebat. Ia memberi contoh vincent van gogh yang juga seorang penyintas penyakit mental. Namanya mashur karena Lukisannya yang penuh dengan sentuhan khas, buah dari pikirannya yang berbeda dari pelukis lain. 


Namun setelah ku telusuri lebih jauh lagi ternyata ia mati bunuh diri. Aku jadi takut. Karena beberapa kali aku sempat terbesit untuk melakukannya juga. Namun Sabi menegurku yang hanyut oleh ketakutanku. Ia bilang aku harus bisa melawan pikiranku. Ia bilang pikiran bila dibiarkan bisa berbahaya. Kita harus bisa mengontrol pikiran kita. 


Aku rasa pun begitu. Bila memikirkan tentang sesuatu, hal yang tidak rasional pun menjadi masuk akal. Aku sering kali melakukan sesuatu yang tidak wajar bahkan bertentangan dengan nilai-nilai yang beredar di masyarakat. Aku tidak bisa menolaknya. Standar logika ku berubah seperti besi yang bengkok karena dibenturkan keras ke batu. Otak ku terlalu keras berpikir, hingga aku mencari jalan pintas untuk permasalahanku itu.


Jadi, mestinya aku memposisikan pikiranku sebagai hal yang aku bisa kontrol. Suara-suara yang singgah di kepalaku adalah tamu yang harus patuh dengan tuan rumahnya. Mencermati jalan pikiran orang memang bagus sehingga kita bisa lebih kaya  dengan berbagai sudut pandang. Tapi ketika itu semua menguasai diri kita maka hilanglah kemerdekaan berpikir yang terkontrol. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapten yang Diam, Penyu yang Lewat

Nebus Resep Obat

Tentang Laut dan Nafas Pertama