Kapten yang Diam, Penyu yang Lewat
Ada hal-hal yang hanya bisa dimengerti ketika kita berada di laut — entah itu cara angin berbisik, cara ombak menyimpan rahasia, atau cara seseorang diam tanpa kehilangan arti. Hari itu, aku sadar bahwa kapten itu bukan sekadar pemimpin di kapal, tapi satu-satunya kapten yang pernah kupilih untuk hatiku.
📍 Di atas boat, laut lepas — 26 Juli 2025
Hari ini laut tenang. Langit seperti mengerti bahwa aku sedang mencari napas panjang.
Aku duduk di depan perahu, menghadap ke arah yang entah, sementara di belakangku, kapten—orang yang pendiam itu—mengemudikan boat seperti biasa. Tak banyak kata, tapi kehadirannya seperti suara mesin kapal: tidak membujuk, tapi terus berjalan.
Seekor penyu melintas di samping boat.
Aku teringat lukisan lamaku—tentang penyu yang akan selalu kembali ke tempat ia ditetaskan. Dan aku, seperti penyu itu, sedang dalam perjalanan panjang untuk kembali ke dalam diriku sendiri.
Tidak terburu-buru. Tapi yakin.
Hari ini aku tenang. Aku bersemangat. Aku bersyukur.
Aku tidak sendiri. Karena di perjalanan ini, ada Ramora. Teman penyu yang sedang dalam perjalanan pulangnya. Menemani, diam-diam, tapi penuh arti.
....
Langit cerah dan Angin bertiup kencang hari ini. Aku memandang kapten dengan topi, kaca mata, dan buffnya yang khas. Sekilas seperti Ninja yang mengintai musuhnya di lautan. Ia kini sedang memandangi lautan.
"Semoga sore nanti aku mancing dapat ikan banyak"
Mungkin itu yang ada dalam benaknya. Maklum selain membawa kami menyelam dia juga adalah seorang nelayan ulung.
Sementara itu aku yang termenung menunggu tamu menyelam- melempar pandanganku pada pulau utama jauh di seberang selat sana. Aku jadi teringat pengalaman berhargaku dengan kaptenku-juga berdua dalam satu boat. Kala itu menuju pulau besar itu. Berikut kisahnya:
Kapten yang 'Diam', He is My Only Captain
Kaptenku orang yang dingin. Kata-katanya hemat, suaranya jarang terdengar, dan kalau terdengar—seringkali seperti ombak keras yang menghantam batu.
Aku, anak baru di boat itu, sering kelimpungan. Salah arah sedikit saat menyelam, dia akan membentak,
“Ngapain kamu nyelemnya ke arah luar teluk, arusnya kenceng, mau mati kamu?!”
Aku takut. Tapi juga kagum. Karena diam-diam, aku tahu: lautan mengalir dalam darahnya.
Ia belum pernah menyelam, tapi ia tahu betul tentang arus, angin, bahkan bentuk dasar lautan—seolah laut berbicara langsung padanya.
Tapi bukan hanya soal cara ia bicara dengan laut. Ia juga punya cara khas berbicara dengan manusia. Bukan dengan kata—melainkan dengan perbuatan.
Setiap pagi, saat kami duduk menunggu penyelam naik ke permukaan, kapten membuka bekalnya. Makanan yang ia bawa dari rumah. Diam-diam, nyaris tanpa ekspresi, ia selalu menoleh dan berkata,
“Makan, Wa.” (panggilan khas nya untukku)
Sederhana. Tapi penuh makna.
Bahkan suatu hari, saat aku belum sempat makan dan hanya diam menatap laut, ia mendorong kotak makannya ke arahku.
“Ini, makan aja nasiku.”
Dan aku makan dari bekal kapten.
Tak ada pembicaraan panjang, tapi saat itu aku tahu: aku dijaga.
Lalu datang hari itu—hari saat nenekku meninggal. Aku harus pulang, menyebrangi pulau. Tapi speed boat terakhir telah berangkat.
Temanku berkata, “Coba minta antar Kapten aja.”
Hatiku ragu. Ini sore hari, perjalanannya panjang, dan butuh banyak bensin. Tapi aku memberanikan diri bertanya.
Kapten hanya menatapku sebentar, lalu berkata:
“Iya.”
Satu kata, tanpa ragu. Ia ambil jerigen bensin, dorong perahu keluar, dan kami berlayar.
Di tengah laut, ia menyuruhku duduk di ujung depan kapal. Aku tak paham kenapa, tapi menurut.
Angin menerpa. Ombak menghantam. Aku duduk kering di depan… tapi ketika aku menoleh ke belakang, aku melihat kapten: basah kuyup, sekujur tubuhnya diterjang air laut yang tertiup angin.
Ia tak bilang apa-apa. Tak mengeluh. Ia hanya memastikan aku bisa pulang.
Sesampainya di seberang, aku sodorkan uang—sebagai rasa terima kasih. Tapi ia menolak, keras.
“Ngapain kamu ngasih uang? Aku ikhlas bantu kamu!”
Saat itu aku sadar:
Di balik buff, topi, dan kacamata hitamnya, tersembunyi hati yang tulus.
Dialah kaptenku. Satu-satunya. Diam, tapi hangat. Keras, tapi peduli.
Dan sejak saat itu, aku tahu…
Bahwa tidak semua orang baik datang dengan senyum.
Kadang mereka datang dalam bentuk kapten yang dingin,
yang tak banyak bicara—tapi selalu berbagi bekal,
dan selalu tahu kapan harus berkata:
"Ayo naik perahu, aku antar kamu pulang"
Komentar
Posting Komentar