Nebus Resep Obat

Ada banyak cara orang bertahan dari kesedihan. Ada yang mencari obat di dalam botol, ada yang berlari sejauh mungkin, ada juga yang menemukan pelipur lara di tempat sederhana yang penuh makna. Kisah kali ini bukan hanya tentang laut, tapi juga tentang seorang sahabat — penyelam, pecinta mantis shrimp, dan pencari senja — yang menemukan resep obatnya sendiri.

---

Ia adalah my first dive buddy. Benar, ia juga seorang penyelam.


Sedihnya, dulu jauh sebelum mengenal laut, ia sempat mau mengakhiri hidupnya. Namun semenjak ia bekerja di laut sebagai penyelam, ia kembali ceria. Ia menemukan lagi semangat untuk menjalani hidupnya.


Selain terobsesi dengan mantis shrimp, ia sangat menyukai sunset. Sunset adalah obat baginya.



---


Suatu pagi, ia dimarahi bos atas kesalahan kecil yang ia buat. Ia menangis dibuatnya. Alhasil, seharian ia bersedih.


Sorenya, setelah hari yang berat di tempat kerja, ia mengajakku ke tempat ia biasa mengobati hatinya.


“Temenin gue yuk, nebus resep obat,” katanya singkat.


Setengah bingung mengartikan maksudnya tentang resep obat, aku tetap mengiyakan ajakannya. Mungkin kita akan ke apotik, pikirku saat itu.



---


Ia mengendarai motor melewati jalan kecil menuju ujung pulau. Sesekali jalanan menanjak tajam, melewati pinggiran pantai.


Akhirnya motor pun berhenti di ujung jalan.

“Sampai. Sini ikut gue,” ujarnya.


Kami berjalan menelusuri jalan setapak, melewati semak-semak, hingga sampai di sebuah Laguna besar.


Di sana ombak silih berganti menghantam karang dan bebatuan. Lautnya berwarna biru muda bergradasi biru tua, dihiasi buih putih ombak yang pecah di garis pantai.


Angin meniup sepoi-sepoi. Langit cerah. Matahari perlahan mulai beranjak turun.



---


Kami berdiri di pinggir tebing, menghadap laut. Sunyi. Hanya terdengar hembusan napas kami sendiri, membuat hati menjadi tenang.


Ia akhirnya memecah keheningan:

“Lo tau gak, Hab, ini salah satunya yang membuat gue tetap bertahan. Menjalani hari demi hari. Ini obat buat gue.”


Obat? pikirku. Aku menatapnya, sementara ia menghadap ke laut, menatap matahari yang turun perlahan.


Kulihat ia menarik napas panjang, menahannya, lalu menghembuskannya. Ia mengulanginya lagi.


Kemudian ia tersenyum. Seperti beban di pundaknya ikut terangkat, menghilang bersama setiap hembusan napasnya.



---


Aku ikut-ikutan menatap senja. Menarik napas. Menghembuskannya perlahan.


Tanpa sadar, aku pun ikut merasa… tenang.


Mungkin benar, ini obat.

Obat yang tak dijual.

Tapi bisa ditemukan.


Di tepi laut.

Dalam sepi.

Dalam senja.


Dalam tarikan dan hembusan napas yang jujur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapten yang Diam, Penyu yang Lewat

Tentang Laut dan Nafas Pertama