Aku dah Sabi
Sore ini aku berada di antara gunung dan laut. Diantara debur ombak yang datang silih berganti. Diantara keyakinan yang perlahan datang dan menguat.
Aku tak sendiri. Aku ditemani seorang petarung yang berhati lembut. Namanya Sabi. Ia datang menjemputku.
"Sudah saatnya kau pergi dari sini" Bisiknya setelah ia memeluku erat. Aku sudah tau maksud kedatangannya. Ia datang untuk menjemputku. Seperti sudah tertulis di dalam skenario cerita ku dan dunia, bahwa kita akan pulang menuju ke rumah. Tempatku berasal.
Hari ini tepat seminggu setelah kedatangannya. Hari-hari kami lalui bersama. Tampak di sudut senyumnya kulihat ada lelah disana. Lelah yang sama seperti lelah ku. Lelah akan perjalanan yang jauh dan lelah akan cinta dan dunia. Tapi ia terus menyemangati ku. Ia yakin kan ku bahwa tak perlu menunggu kuat untuk berjalan.
Masih kuingat dulu, bagaimana aku sempat takut pada semua hal. Aku sedikit gentar melihat tatapan matanya dan besar tinjunya. Suatu malam diantara hidup dan mati, aku pergi meninggalkannya. Namun ia yang sempat kutakutkan malah pergi berkeliling komplek mencariku. Melewati dinginnya malam.
Hari ini, seminggu sudah kami bersama melewati hari demi hari. Menjalani hari sebagai lakon hidup dari sebuah skenario besar. Ia meyakinkan ku untuk terus melangkah dan bukan hanya sebagai penonton. Tapi menjadi pemeran di dalamnya.
Ia mengajakku yang hanya berbekal sisa-sisa harapan untuk mengais harapan baru untuk kujadikan bekal menuju jalan pulang.
Danau, sungai dan laut menjadi saksi perjalanan kami selama seminggu ini. Jalanan, warung makan, pom bensin, masjid, dan bengkel pun tak luput menjadi persinggahan kami berdua.
Cukup sudah perjalanan ini menutup episode yang melelahkan bagiku penyu yang tersesat dan terbawa arus ini. Kini ia sudah menemukan jejak-jejak kehidupannya yang dulu. Perlahan tapi pasti ia mulai mengayuhkan siripnya dan bergerak menuju jalan pulang.
Komentar
Posting Komentar