Adi dan Pemahamannya Akan Perasaan Manusia

Dia lah Adi yang meyakinkanku untuk terus melangkah dalam lelahku dan ketakutanku. Ia memvalidasi tangisku. Tangisku yang sesenggukan seperti bayi diterima olehnya. 
Ditengah deru tangisku ia sesekali seperti menjawab setiap keluhanku, setiap pertanyaanku. Tanpa mengerti betul apa yang ada di benakku tapi ia mengkonfirmasi perasaanku, menerima setiap segukan tangisku. Ia menjawabnya disetiap jeda tangisku. 

"Enggeus... Enggeus.... Heeuh.... Heeuh.... Nyaho aing ge.... Ngarti aing ge..... Heeuh... Enggeus...."

Tangisku makin menjadi. Aku merasa ada yang membelaku. Aku semakin menjadi emosionil. Aku merasa bahwa kesedihanku adalah hal yang benar. Seperti anak kecil yang dibela tangisku makin meledak. Aku pun habiskan air mataku. 

Ia mengerti bahwa apa yang kulakukan adalah kebenaran dan ia menjadi saksinya. 

Saat aku berhenti karna kehabisan tenagaku, ia ada disana. Ia meyakinkanku bahwa penderitaanku adalah penderitaannya begitu pula sebaliknya. Apa yang terjadi padaku adalah masih bagian dari hidupnya. 

Ia mengerti penderitaan bukan melalui pembelajaran ilmu psikologi atau buku-buku cara memahami perasaan manusia. Ia memahami perasaan manusia lewat pengalamannya bertemu manusia. Melalui setiap pertemuan dan perpisahan nya dengan manusia. Ia renungi setiap tangis, setiap tawa, dan setiap marah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapten yang Diam, Penyu yang Lewat

Nebus Resep Obat

Tentang Laut dan Nafas Pertama