Menyelam dan Memahami Laut Kita

 Hey Ramora! Sudah lama aku tak melihatmu. Aku tau kau masih setia menempel di badanku entah di perutku atau di tempurungku. 


Aku penyu yang terhuyung terseret arus ini kini perlahan menemukan arah pulangku kembali. Lebih tepatnya menemukan semangat untuk kembali. Karena sejatinya tak ada yang benar-benar kehilangan arah. Hanya saja semangatnya yang sedikit tergerus di tengah perjalanan. 


Aku merasakan suntikan semangat dari teman-temanku di Mapala. Mereka sedang semangat-semangatnya untuk belajar menyelam. Semangat itu menjalar ke dalam tubuhku. Aku yang sudah mati rasa dengan keindahan bawah laut dan semua petualangan yang menyertainya kini semuanya terasa hidup kembali. 


Pelatihan ini dipimpin oleh teman kami yang merupakan seorang instruktur yang sangat berpengalaman. Aku dimintai tolong sebagai asistennya. Materi demi materi disampaikan dengan serius. Mereka pun sangat antusias memperhatikan. Kulihat dari mata mereka yang menyala memperhatikan instruktur. 


Sampailah tiba waktunya pada penyelaman di laut lepas. Kami akan menyelam menyusuri bangkai kapal dari zaman Perang dunia II USAT LIBERTY. Kami sudah bersiap dengan seluruh peralatan menyelam terpasang dengan rapi di badan. Sebelum turun kami saling mengecek semuanya agar berfungsi dengan baik. Kami pun berjalan ke tengah menapaki bebatuan lalu memasang kaki katak kami. Di tengah kami mempraktekan beberapa skill sebelum turun melakukan penyelaman. 


Skill di permukaan telah dipraktikkan. Kami pun mengempiskan BCD kami lalu perlahan turun ke kedalaman. Kami pun berada di kesunyian bawah laut. Tak ada suara lain selain nafas kami. Setiap tarikan nafasnya bagaikan terapi bagi kami. Mengingatkan kami bahwa ketenangan yang dapat menyelamatkan kami di bawah sana. 


Di bawah kami tak bisa lagi berkomunikasi dengan bicara secara normal. Semua komunikasi kami lakukan dengan isyarat. Kami dipaksa harus peka dengan apa yang teman kami rasakan. 


Kami kayuhkan kaki kami menuju birunya laut. Kami merasakan sensasi tanpa gravitasi. Tak tenggelam dan tak mengapung. Kami melayang seperti tanpa beban menuruni slope yang mengarah ke kedalaman. 


Di ujung slope terlihat struktur kumpulan dari banyak karang yang tak biasa kulihat. Ia mengerucut ke atas. Disana aku tersadar kalau kami sedang berada di haluan kapal karam itu. Aku lihat 4 teman ku yang baru belajar ini. Tampak matanya membelalak melihat haluan kapal yang dipenuhi dengan terumbu karang. Aku lambaikan tangan ke arah wajahnya dan ku tatap matanya. Lalu aku beri isyarat tangan "okay" dengan menghubungkan jari telunjuk dan ibu jariku membentuk "O". Responnya terbilang agak lambat. Maklum dibawah air semuanya melambat. Ia pun menjawab "Okay". Aku tersenyum dan memberikan isyarat tangan berikutnya yaitu "Keren" Dengan melipat tiga jari ditengah dan menyisakan ibu jari dan kelingking, lalu ku goyang-goyangkan. Dia pun mengikuti apa yang kulakukan. 


Aku hanya mengungkapkan rasa senang dan syukurku bisa membersamai orang baru masuk ke dalam dunia yang berbeda meski masih di planet yang sama. Dunia dimana aku pernah hidup disana yaitu dunia bawah laut. Terlebih orang baru itu adalah orang indonesia sendiri. Orang yang rumahnya adalah rumah juga bagi biota laut terbesar di Dunia. Ironis rasanya melihat masih sedikitnya orang Indonesia yang turun menyelam ke bawah laut. Sudah saatnya kita menjadi tuan rumah di negara sendiri dalam dunia penyelaman. 


Kegelisahanku akan hal ini sedikit-demi sedikit terjawab. Banyak perusahaan penyelaman yang menawarkan beasiswa Divemaster. Mulai bermunculan generasi-generasi muda yang tertarik dalam dunia ini. Meski begitu masih banyak hal yang menjadi penghalang seperti belum adanya materi-materi penyelaman berupa buku yang berbahasa indonesia yang bagus. Selain itu juga pengajar ataupun instruktur yang merupakan orang Indonesia juga masih terbatas. Hal ini menjadi keterbatasan bagi orang yang tidak memiliki akses ke bahasa asing untuk belajar menyelam. 


Selain bahasa, perlu juga diadakan riset mendalam tentang penyelaman itu sendiri baik dari segi teknis ataupun ilmu kelautan dan perikanannya. Fakta yang miris adalah ketika kita para penyelam belajar tentang identifikasi ikan atau karang, referensi buku nya semuanya berbahasa asing. Sederhananya saja terkait nama-nama ikan kita masih mengadopsi nama ikan dari bahasa asing. Padahal bila kita gali lebih dalam lagi kita sebenarnya sudah punya nama-nama ikan dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Misalnya ikan "fogot" kita di dunia penyelaman tidak ada rasa bangga dan percaya diri memperkenalkan ke orang-orang asing bahwa itu adalah ikan "fogot". Mirisnya kita para penyelam lebih sering menyebut ikan itu dengan nama "Trigerfish". Belum lagi tentang skill, teknik, pengetahuan, dan peralatan penyelaman. Semuanya masih terbelakang dan kita hanya bisa di dikte oleh orang di luar sana. 


Bayangkan saja laut beserta isinya : ikan, terumbu karang dan potensi laut lainnya adalah punya kita, tetapi kita mesti belajar memahaminya dengan bahasa orang lain. Ibaratnya ada sebuah warung makan lalapan yang menjajakan makanan berupa lalapan ayam tapi kita harus memesannya dengan menggunakan bahasa asing dan memakannya juga harus menggunakan sendok dan garpu. 


Maka dari itu dengan langkah kecil berupa melibatkan orang baru dalam penyelaman-bagiku merupakan bentuk dari membumikan penyelaman di negeri beribu pulau ini. Negeri dengan populasi biota laut terbesar di dunia ini. Semoga kita menjadi orang yang mencintai negeri ini dengan cara mencintai alamnya. Jika sudah mencintai, baru kita akan lebih dewasa dalam mempersembahkannya pada orang asing. Mengenalkannya pada mereka dengan cara kita sendiri. 


Segitu saja dulu ya Ramora! Aku gak mau banyak-banyak malu sama orang yang lebih hebat dan pintar lagi di bidang ini, hehe. Ini hanya ungkapan kegelisahanku, semoga bisa dibaca dan kalau mau di renungkan. Kalo enggak juga gak apa-apa. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapten yang Diam, Penyu yang Lewat

Nebus Resep Obat

Tentang Laut dan Nafas Pertama