Antara Laut dan Oli
Di sinilah aku sekarang.
Bukan lagi bersama laut dan asinnya garam,
melainkan dengan kunci dan oli.
Sudah hampir dua minggu sejak aku berhenti bekerja sebagai kru boat diving.
Awalnya berat untuk benar-benar pergi.
Ada kalanya aku rindu — ingin kembali mencium bau laut, mendengar desiran ombak, atau sekadar menatap penyelam yang muncul ke permukaan dengan senyum lega.
Bahkan beberapa malam, laut itu datang lagi dalam mimpiku.
Namun kini, ada rasa lega yang perlahan muncul.
Aku menjalani hidup yang baru.
Dunia otomotif—dunia yang tak pernah terpikirkan akan kusentuh—kini menjadi keseharianku.
Aku benar-benar mulai dari nol.
Jangankan membongkar motor dan memasangnya kembali,
mengganti oli atau mengisi angin ban pun sempat membuatku bingung.
Aku tak tahu apa nama-nama kunci itu,
tak hafal bentuk spare part,
tapi anehnya… aku menikmatinya.
Ada sesuatu yang sama di antara laut dan bengkel:
keduanya mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan kerendahan hati.
Mungkin bukan arus atau ombak yang kini menantangku,
melainkan baut yang seret dan oli yang menetes di jemari.
Beruntung aku punya mentor yang sabar,
yang tak sekadar mengajarkan cara memperbaiki mesin,
tapi juga mengajarkan bagaimana cara tetap tenang
saat sesuatu tak berjalan sesuai keinginan.
Komentar
Posting Komentar