Tiupan Pertama di Bawah Langit Senja
Sore ini, angin laut membelai wajahku dengan lembut. Ombak berlari pelan menuju pantai, seolah membawa kabar baik dari jauh. Di atas kapal yang bergoyang ringan, aku memandang ke langit yang berwarna keemasan, dan rasa syukur itu mengalir begitu saja.
Aku menutup mata sejenak. Dalam hati, aku mengucap doa sederhana — semoga hari esok selalu ada alasan untuk tersenyum, semoga langkah-langkah kecil ini membawaku lebih dekat pada diriku sendiri.
Lalu, aku mengeluarkan harmonika baruku. Warnanya berkilau terkena sinar senja. Tiupan pertama keluar masih kaku, nadanya sedikit goyah. Tapi di antara bunyi yang belum sempurna itu, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Seperti menyapa diriku yang lama tak kudengar.
Hari ini, aku tidak menuntut apa-apa dari musik itu. Cukup membiarkan nada-nada yang lahir, sesederhana apapun, menjadi pengingat bahwa aku masih di sini — di tengah laut, di bawah langit senja, dengan hati yang perlahan belajar bernyanyi lagi.
Komentar
Posting Komentar