Surat untuk Wahab Lima Tahun Lalu oleh Wahab yang sekarang

 Hai kamu, Roy.

Setidaknya itu nama lain yang kau dapat dari pamanmu di masa depan. Ia bilang, nama aslimu terlalu berat: “Hamba Tuhan yang Maha Pemberi.”

Doa dan harapan yang tulus dari orang tuamu, memang. Tapi kau tak harus memikulnya sendirian. Kau tak seagung itu, dan tak perlu menjadi seagung itu. Kau hanya manusia biasa… yang kebetulan diberi nama dengan makna besar.


Aku adalah kamu — lima tahun dari masa depan.

Dan aku ingin memberitahumu sesuatu:

Hidup tidak akan mudah.

Tahun-tahun mendatang akan terasa berat. Tapi tolong, kuatkan dirimu.

Jalan yang akan kau lalui benar-benar seperti lagu Iwan Fals:


> “Jauh jalan yang harus kau tempuh

Mungkin samar, bahkan mungkin gelap

Tajam kerikil setiap saat menunggu

Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu”




Aku kasihan pada kamu yang muda — yang memikul semua beban itu sendiri.

Wajar kalau kamu nanti jatuh. Wajar kalau kamu merasa terpuruk.

Kamu terlalu keras memakai kepala dan hatimu, untuk hal-hal yang sebenarnya bukan milikmu. Bukan tanggung jawabmu.


Kau tak harus selalu memikirkan orang lain secara berlebihan.

Semesta akan terus berjalan — dengan atau tanpa campur tanganmu.

Yang lebih penting: kamu juga berhak bahagia, dengan jalanmu sendiri.


Istirahatkan dirimu.

Lakukan hal-hal kecil yang kau senangi.

Berdoalah yang jujur, tak perlu puitis.

Doa sederhana seperti:

"Tuhan, aku bingung. Aku lelah. Tolong bantu aku."


Kau bukan Superman.

Kau tak harus menyelamatkan semua orang.

Tuhan memberimu empati, iya — tapi itu bukan beban.

Kadang, untuk bisa menolong orang lain,

kau harus belajar menyelamatkan dirimu sendiri lebih dulu.


Dan satu hal lagi — tentang cinta.

Berhati-hatilah.

Seperti kata Queen:

“Too much love will kill you.”

Cinta itu manis dan lembut, tapi bisa menjadi jerat halus yang mematikan.

Jika kau mencintai seseorang lebih dari mencintai dirimu sendiri,

maka yang terbakar perlahan adalah hatimu sendiri.


Cintailah dirimu lebih dulu.

Belajarlah membatasi, dan merawat hatimu.

Cinta yang tulus tak harus selalu mengorbankan semuanya.


Dan tentang uang —

Percayalah, materi bukan tujuan utama.

Jika kau terlalu mengejarnya, kau akan kehilangan dirimu sendiri.

Syukuri apa yang ada.

Nikmati secangkir teh, udara pagi, dan waktu sendirian.

Itu semua adalah rezeki juga, Wahab.


Dari aku, dirimu di masa depan.

Yang sudah menangis banyak,

tapi juga mulai bisa tertawa lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapten yang Diam, Penyu yang Lewat

Nebus Resep Obat

Tentang Laut dan Nafas Pertama