Seperti Karang yang Dihantam Ombak
Ramora, aku di sini lagi—di laut yang sama, yang selalu berubah tapi terasa tetap. Siang ini laut sedang surut. Boat kami diam mengambang, tertambat pada mooring dangkal dekat pantai. Aku duduk di ujung boat, membiarkan mataku bengong. Pandanganku jatuh pada sepotong karang di kejauhan, yang terus-menerus dihantam ombak.
Ia tak beranjak, tak membalas. Diam saja, seolah sudah sepakat dengan kerasnya hidup. Tabah tanpa keluhan.
Tadi siang, bos menawariku fun dive. Sudah hampir sebulan aku tak menyelam—dan ajakan itu seperti angin segar. Aku sempat merasa bersemangat. Tapi ada yang menahanku.
Aku memikirkan kapten. Bila aku ikut menyelam, tak ada yang menemani dan membantu di boat. Dan benar saja—begitu penyelaman dimulai, boat bergerak pelan ke arah mooring. Kapten bersiap menambatkannya. Andai aku tak ada, ia pasti kerepotan. Saat itulah aku tahu: keputusanku untuk tetap di boat bukan pengorbanan, tapi pilihan yang tepat.
Belakangan aku merasa segan pada kapten. Ia menjadi lebih dingin. Saat kutanya, “Nyelem ke mana siang ini, Kapten?”
Ia hanya menjawab, “Nggak tau,” tanpa menoleh.
Aku jadi berpikir... apa karena aku tak menggosok boat? Beberapa hari lalu ia lebih duluan melakukannya—padahal itu tugasku. Aku memang menundanya. Dan mungkin ia kecewa, tapi tak pernah bilang.
Hari ini ia tiduran di bagian tengah boat. Kursi spon ia lipat jadi bantal, lalu ia menyandarkan kepala, membuka HP, dan membiarkan dunia berlalu di sekitarnya—termasuk aku.
Mungkin beginilah caranya ia hadir: dingin dan misterius. Aku iri pada teman-temanku yang bisa lebih dekat dengannya, bercanda dan tertawa. Tapi mungkin ini bentuk hubungan kami yang paling jujur—diam, tapi tetap saling mengerti. Dalam keheningan itu, aku merasa kami saling menjaga.
Sekarang, ia bukan cuma kapten. Ia temanku. Dan aku sadar, menjadi boat hand bukan hanya soal mendampingi tamu menyelam. Ada tanggung jawab kecil yang tak kalah penting: menggosok boat, menjaga kebersihan, merawat yang tak terlihat.
Aku tak suka pekerjaan itu. Jujur saja, kadang aku malas. Tapi aku belajar untuk menerima. Belajar untuk tabah.
Seperti karang yang dihantam ombak—ia tak pernah pergi. Ia tetap ada.
Komentar
Posting Komentar