Menunggu di atas ombak
Siang yang panas di boat. Cukup untuk mengeringkan bajuku yang sudah basah kuyup untuk yang keempat kalinya.
Swell tinggi sekali hari ini. Kami pergi ke manta point. Pulang pergi baju kami diguyur hempasan air laut.
Begini lah bekerja di laut. Asin garam laut sudah menjadi makanan sehari-hari. Tak menyalahkan, kalau aku bekerja sebagai penjaga toko parfum mungkin lain cerita.
Bukannya bertabur garam, badanku akan harum sepanjang hari.
Suara deburan ombak silih berganti memasuki rongga telingaku. Ditambah boat kami yang bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan ombak. Syahdu sekali. Ini membuat aku ingin tidur saja.
Kapten sudah duluan tidur dan aku berjemur mengeringkan bajuku. Tak salah ia tertidur, pastinya ia lelah seharian mengemudikan boat dengan kondisi laut yang cukup ekstrim.
Bagaimana tidak, dari puluhan boat yang biasanya pergi ke manta point, pagi tadi hanya kami saja yang berada di sana.
Beginilah keseharian kami, 2 jam dalam sehari kami habiskan untuk menunggu para penyelam.
Kadang aku berpikir, apa kabar penjaga toko parfum itu? Tapi mungkin ia juga sedang iri pada laut yang bisa membuat siapa pun jatuh cinta, meski dengan baju basah dan kulit terbakar.
Komentar
Posting Komentar