Ketika Menyelam Tak Lagi Sama
Ramora, apakah ada pekerjaan yang tidak membosankan? Maksudku aku sedikit kurang percaya dengan yang namanya kerja berdasarkan passion. Meskipun kita mencintai pekerjaan itu pada awalnya pasti setelah berjalannya waktu kita akan merasakan bosan. Bosan mengerjakan hal yang sama berulang-ulang, menghadapi masalah yang sama, bersinggungan dengan orang yang sama.
Bagiku itu semua sungguh melelahkan.
Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai penyelam profesional aku sempat berhenti. Aku merasa lelah dengan dunia ini. Kelelahan ini membuat perasaanku tentang diving ini berbalik 180°. Diving menjadi kegiatan yang traumatik bagiku. Aku menjadi resah di bawah air. Aku tidak merasakan ketenangan yang sama. Hal sesederhana menggunakan masker dan bernafas dengan regulator pun menjadi hal yang menakutkan. Melayani tamu dengan kebutuhan yang berbeda-beda menjadi sebuah tekanan. Belum lagi tamunya banyak nuntut, atau tamu dengan skill menyelam yang rendah. Sudah dipastikan harimu akan menyebalkan.
Saat ini adalah pertengahan tahun dimana para penyelam dibebankan dengan tuntutan untuk menemukan Mola-mola. Ikan yang hanya bisa dilihat pada saat-saat tertentu. Aku bisa merasakan tekanan batin ini pada kawan-kawanku yang aktif dalam penyelaman. Mereka hanya pandai menyembunyikan semua tekanan itu dalam senyum palsu.
Apa yang mereka rasakan sekarang adalah kekhawatiranku bila aku aktif lagi menyelam sebagai guide. Itulah kenapa aku lebih memilih sebagai boat hand.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan otakku. Kalau diibaratkan, seseorang yang sudah mahir mengendarai sepeda motor tiba-tiba merasa enggan mengendarainya lagi dengan beberapa alasan seperti tidak nyaman menggunakan helm, dingin terkena angin di jalan, malas menghirup polusi dari kendaraan lain, atau malas duduk berlama-lama di sadelnya. Itu lah yang aku alami dalam dunia penyelaman belakangan ini.
Makanya aku nanya ini ke kamu Ramora. Aku yakin di setiap pekerjaan lainnya pun pasti begitu. Akan ada titik jenuh dari sebuah pekerjaan.
Tapi kamu benar, Ramora. Terlalu banyak nikmat yang aku dapatkan. Nikmat hidup, nikmat bernafas, bahkan nikmat lelah. Kadang lelah pun menjadi nikmat kalau kita bersyukur.
Komentar
Posting Komentar