Hal yang Tidak Ingin Kuceritakan, Tapi Perlu Kutulis
Ada hal-hal yang terjadi begitu cepat… hanya dalam beberapa detik. Tapi sisa harinya, aku terdiam menyesalinya.
Hari ini aku merasa jatuh ke dalam dua lubang. Yang satu bernama lidah, dan satunya lagi pikiran.bDua-duanya licin — dan sayangnya, aku terpeleset di dalamnya.
Pertama, aku mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu keluar dari mulutku. Sebuah candaan yang menyentuh identitas seseorang. Meski dalam suasana bercanda dan tidak berniat menyakiti, ada detik setelahnya yang membuat hatiku tercekat. Seperti tubuhku tahu lebih dulu kalau aku telah melewati batas.
Aku sempat bertemu lagi dengan orang itu setelahnya. Ia tersenyum. Katanya tak marah. Tapi aku tetap merasa bersalah. Kadang, luka bukan tentang seberapa dalam goresannya. Tapi tentang apakah kita menyentuh sesuatu yang rapuh — meski tak terlihat.
Yang kedua, adalah soal pikiranku yang terlalu jauh. Rasa penasaran membuatku tergoda membuka sesuatu yang bukan milikku. Aku tidak benar-benar melakukannya. Tapi niat dan tindakanku sudah melangkah terlalu dekat. Dan sesaat setelah itu, aku panik. Bukan karena takut ketahuan, tapi karena aku sadar…
aku bisa kehilangan rasa hormat pada diriku sendiri.
Dari dua kejadian ini aku belajar: kesalahan tidak selalu terjadi di permukaan. Kadang ia tumbuh diam-diam di dalam niat. Dan meminta maaf tak selalu harus karena kita melukai orang lain, tapi karena kita ingin menjaga versi terbaik dari diri kita sendiri.
Aku belum tahu apa yang harus kulakukan besok. Tapi malam ini aku ingin menuliskannya — karena aku perlu jujur pada diriku sendiri. Mungkin ini caraku menjaga agar hatiku tetap peka. Agar aku tak terbiasa melewati batas dan berdamai dengan kesalahan.
Kadang…yang paling menyakitkan bukanlah dimarahi orang lain, tapi saat kita sendiri tahu kita bisa lebih baik dari itu.
Dan hari ini, aku tahu: aku bisa lebih baik dari hari ini. Aku hanya perlu mengingatnya — dan mulai melangkah.
Komentar
Posting Komentar