Daun di Atas Ombak

Kembali siang ini aku di laut, bersama kapten.


Angin bertiup kencang, dan awan beriringan menutupi matahari.

Cukup damai untuk sekadar mengistirahatkan hati dari hari yang melelahkan.


Tak banyak kata terucap dari kami berdua—karena barangkali hati kami sudah saling terhubung tanpa suara.


Boat kami tertambat pada mooring di samping tebing sebuah pulau.

Kapten di belakang, setelah bosan berbaring, kini duduk kembali di singgasananya: balik kemudi.


Aku tak tahu apa yang sedang ia lihat—kacamata hitamnya tetap saja misterius.

Mungkin ia tak tertarik memperhatikan sekitar.

Bisa jadi laut ini tak lagi memukau baginya.

Atau mungkin… ia sedang mengawasi aku, anak buahnya yang tampak hanya melamun setiap kali menunggu para penyelam pergi.


Ya, aku memang sedang melamun—memperhatikan daun yang jatuh dari pohon di tepi tebing.


Kulihat daun itu seperti pasrah.

Di satu sisi, ia dibawa arus ke arah pantai.

Di sisi lain, angin mendorongnya ke tengah.

Gelombang memantulkannya ke arah yang berbeda.


Tak tahu pasti ke mana semesta akan membawanya pergi.


Ia mengingatkanku akan diriku sendiri.

Hidupku kini masih diliputi ketidakpastian.

Ke mana sebenarnya jalan hidup ini membawaku?


Apakah aku akan tetap menjadi boat hand dan menjadi bagian dari laut ini selamanya?

Ataukah dasar laut akan kembali memelukku, memanggilku untuk menyelam lagi?


Aku tak tahu pasti, ke mana kakiku akan melangkah.


Sempat terlintas untuk kembali ke daratan—hidup tanpa gelombang, tanpa asin air laut.

Tapi bila saat itu tiba, aku tahu: aku pasti akan merindukan lautan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapten yang Diam, Penyu yang Lewat

Nebus Resep Obat

Tentang Laut dan Nafas Pertama