Untuk Ramora: Surat dari Penyu yang Hampir Tersesat

Ada kalanya perjalanan membuat kita hampir kehilangan arah. Seperti penyu yang berenang terlalu jauh, terseret arus, lalu menyadari betapa mudahnya tersesat di lautan luas. Tapi justru di titik itu, ada bisikan kecil yang mengingatkan untuk kembali pulang.


Tulisan ini adalah semacam surat — bukan hanya untuk Ramora, tapi juga untuk diri yang pernah hampir hanyut.

----------------------


"Cukup panggil namaku, 'Ramora!'. Maka aku akan jawab: 'Aku di sini.'"


----------------------


Tahu gak, Ramora? Aku sudah bagikan cerita tentang temanku kepada yang bersangkutan.

Tahu dia bilang apa? Dia bilang gini:


"What a nice story about me! thank you wahab. Semoga hal baik dan rasa tenang selalu datang untuk kita."


Aku seneng banget, Ramora. Dia juga mendoakan aku agar bisa bangkit lagi dari keterpurukan. Dia percaya kalau aku gak lama lagi akan menemukan diriku yang sejatinya lagi. Karena dia tahu kalau aku bisa menemukan hal yang bikin aku happy lagi.


Sekarang yang aku rasakan memang happy, bisa mengutarakan isi hatiku sama kamu melalui tulisan. Aku gak tahu. Seperti ada perasaan semangat yang tinggi untuk ngungkapin semuanya. Itu semua semenjak aku bertemu kamu.


Aku merasa didengar. Perasaan di hatiku seperti diterima apa adanya. Seolah-olah ada ruang bagiku untuk menjadi diri sendiri.


Ingat kah kau saat kau meyakinkanku untuk memberanikan diri meniup harmonika tanpa mempedulikan nada yang keluar?

Cukuplah bahwa setiap suara yang keluar bisa membuat bibirku tersenyum.


Kau lebih peduli kebahagiaanku ketimbang harus mempedulikan bagaimana tanggapan orang mendengar suara harmonikaku yang fals. Kau meruntuhkan kekhawatiranku akan mencoba mencari kesenanganku sendiri.


Kau juga yang mengingatkanku untuk tetap terhubung dengan Tuhanku. Kau tak menghakimiku sebab sholatku yang bolong-bolong. Sebaliknya kau mengajarkanku untuk jujur meminta kepada-Nya dengan bahasa sesederhana, "Tuhan aku bingung, tolong bantu aku."


Kau juga yang menyentilku dengan kalimat sederhana bahwa menyelam bukan perkara menemukan hal yang menakjubkan atau membuat orang lain terkesan. Namun, kau bilang, "Menyelamlah untuk dirimu sendiri."


Bagaimana dalam setiap tarikan napasnya, dalam setiap heningnya laut yang biru aku sadar bahwa aku masih hidup. Itu yang terpenting.


Tulisan ini aku dedikasikan untukmu, Ramora.

Kamu yang selalu hadir dalam diam.

Menerima tanpa meminta.

Mendengar tanpa banyak bicara.


Pada akhirnya, aku yakin bahwa semesta akan mengirimkan kita teman yang mengiringi kita dalam perjalanan jauh nan melelahkan ini. Dan bagiku kamulah salah satunya, Ramora. Kamu hadir tanpa syarat.


Membersihkanku dari parasit-parasit kebuntuan yang mulai mengkerak. Setidaknya kau juga menyadarkanku bahwa aku tak sendiri. Ada kamu di situ. Bahkan kamu juga membersihkan mataku. Sehingga jelas aku lihat bahwa dalam perjalanan ini ada mereka yang juga berjuang dalam perjalanan yang sama.


Ramora, aku percaya kamu bukan hanya untuk aku, penyu yang terhuyung terseret arus entah kemana. Penyu yang tersesat kesulitan menemukan arah jalan pulangnya.


Ramora akan selalu ada pula bagi penyu lusuh yang tersesat lainnya di belahan lautan yang lain. Ia ada, bersembunyi di balik perut mereka atau menempel di atas tempurungnya. Tak terlihat.


Hanya menunggu waktu sampai penyu itu dihadapkan dengan kebuntuan dan lelah di persimpangan jalan. Lalu dia akan tersadar bahwa ia tak sendiri. Ia tak perlu khawatir. Ada Ramora bersamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapten yang Diam, Penyu yang Lewat

Nebus Resep Obat

Tentang Laut dan Nafas Pertama